Secangkir kopi ibarat pelajaran bahasa: terdapat aturan, ilmu, dan retorika. Bagi sebagian besar orang, kopi bukan sekadar minuman penghangat. Ia adalah media komunikasi. Sebab secangkir kopi bisa menjadi bahasa yang universal. Kopi dianggap bisa menyampaikan banyak pesan pada orang lain, meskipun mereka berbangsa, berbahasa, berkultur, dan berlatar berbeda.

Itulah salah satu hal mendasar yang bisa saya tangkap dalam Filosofi Kopi the Movie. Film ini merupakan sebuah film layar lebar Indonesia terbaru yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, yang diadaptasi dari cerita pendek karya Dewi Lestari berjudul sama.

Tapi apakah Filosofi Kopi the Movie melulu berbicara tentang kopi?

Featured image

Filosofi Kopi the Movie berkisah tentang kedai Filosofi Kopi yang didirikan oleh dua sahabat, Jody (diperankan oleh Rio Dewanto) dan Ben (Chikho Jerikho). Interaksi antara Jody dan Ben menekankan harmonisasi dan ketergantungan antara mereka. Hanya saja, mereka juga sama-sama terdampar dalam satu masalah klasik: hilangnya kepercayaan terhadap sang ayah.

Terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang gemar berdagang, Jody tak hanya mewarisi toko kelontong dari mendiang sang ayah, namun hutang sebesar delapan ratus juta rupiah. Sedangkan Ben, barista jenius asal Lampung yang penuh pesona, adalah anak laki-laki dari seorang petani kopi yang terpaksa ia tinggalkan karena ia anggap telah membunuh ibunda tercintanya.

Agaknya kesamaan itulah yang membuat Jody dan Ben begitu dekat. Terlebih Ben telah menjadi bagian dari keluarga besar Jody sejak usia 12 tahun, dimana Ben ditampung dan disekolahkan. Hanya saja, di tengah harmonisasi serta perjuangan mereka mengatasi hutang, mereka terbelit konflik yang cukup pelik. Mulai dari hal-hal seputar materi, kehadiran tokoh El (Julie Estelle) – love interest bagi Jody dan Ben, hingga tantangan membuat kopi berhadiah satu milyar dari seorang pengusaha properti.

Pada akhirnya, kopi jualah yang menjaga harmonisasi interaksi antara Ben dan Jody. Keuniversalan dan keunikan kopi memang sulit untuk dilawan. Seperti halnya kekuatan cinta bagi pemujanya.

Bila boleh menyimpulkan, gagasan besar dalam film Filosofi Kopi the Movie ini adalah agenda bonding antara ayah dan anak, cara melepaskan diri dari jeratan masa lalu, serta kecenderungan kuat dalam mengolah masalah menjadi sebuah konsep win-win solution.

Bagi yang ingin tontonan ringan, Filosofi Kopi the Movie nampaknya akan memuaskan siapa saja penontonnya. Pesona cerita dan kualitas akting para pemerannya akan memberikan sensasi rekreasi yang tak terlupakan.

PS:

Menilik karakter Jody dan caranya menanggapi kesusahannya yang tak putus-putus, saya jadi teringat sosok Tevye di film klasik Fiddler on the Roof yang berujar kepada Tuhan: “I know, I know. We are Your chosen people. But, once in a while, can’t You choose someone else?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s