Review Buku “absurdity,” – Sebuah Arisan dan Independensi

Review buku absurdity, ini saya buat tanpa sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Sebab saya lebih suka memaksa daripada dipaksa.

Buku absurdity, ini sebenarnya hasil dari bentuk “paksaan” saya kepada penulisnya. Meskipun hanya sempat beberapa minggu menjadi rekan kerjanya di sebuah perusahaan industri kreatif, saya tahu, si penulis berpotensi untuk menerbitkan buku. Minimal buku Yasin. Mudah saja baginya membuat saya jatuh cinta pada tulisan-tulisannya yang tajam namun mengalir lancar. Oleh karena itu, tanpa malu-malu saya langsung mengatakan, “Fik, lo harus bikin buku!

Abad ke-20 bisa dikatakan sebagai Abad Menerbitkan Buku. Mereka yang sedikit-sedikit bisa menulis mulai berani mengirimkan tulisan-tulisan alakadarnya ke penerbit. Bak gayung bersambut, penerbitpun senang menerima karya-karya alakadarnya itu. Penulis senang karya mereka diterbitkan. Penerbit senang ada produk yang dijual. Untungnya, masyarakat yang tidak-doyan-membaca-tapi-belagak-suka juga berboyong-boyong membelinya. Win-win solution!

Buku absurdity, karya perdana dari Fikri.
Buku absurdity, karya perdana dari Fikri.

Sayangnya, absurdity, adalah sebuah pengecualian. Tak hanya sering ditolak lawan jenis, kali ini Fikri juga mendapat penolakan dari penerbit. Bukan karena Fikri terlalu baik, namun penolakan tersebut dilandasi ketidaksesuaian jumlah pengikut di media sosial dengan ‘idealisme pemasaran’ sang penerbit. Hingga akhirnya, saya salut dengan kegigihan Fikri untuk menerbitkan secara independen buku absurdity, yang katanya baru volume pertama ini.

Dalam volume pertama, saya mengibaratkan absurdity, semacam arisan ibu-ibu sosialita. Jika di dalam arisan, selalu terjadi pertemuan sekumpulan orang yang kemudian adu pamer alih-alih silaturahmi, maka dalam absurdity, Fikri ‘memamerkan’ keluguannya semasa kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Sesekali saya merasakan kemewahan dari buku ini, yang menyajikan indahnya masa-masa kuliah, bingungnya saat jatuh cinta, hingga pengalaman-pengalaman ‘cacat’ yang bisa mengundang tawa.

Mengutip seorang filsuf pemenang hadiah Nobel yang sangat berpengaruh di abad ke-20 bernama Albert Camus,

“Accepting the absurdity of everything around us is one step, a necessary experience…”

Berkaca dari kutipan tersebut, itulah Fikri dengan absurdity,-nya, yang dengan lancar menceritakan ke-absurd-an di sekelilingnya.

Buku absurdity, bisa jadi sebuah surga bagi pecinta Yogyakarta (tentu minus Florence-nya), penyuka perempuan yang ternyata juga dicintai laki-laki di berbagai kota, dan penikmat untaian kata yang memesona.

Jika ingin merasakan kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan oleh absurdity, maka sila memesannya di sini atau memesannya secara langsung melalui penulisnya di nomor kontak Whatsapp 08179802125 atau via Line dengan ID “hiumacan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s