Kisi-Kisi Ujian Nasional, Untuk Apa Pelajar Mengejarnya?

Kisi-kisi Ujian sedang jadi Most Wanted Item dalam beberapa bulan ini. Siswa dan siswi semester akhir dari seluruh Indonesia akan menghadapi Ujian Nasional yang menjadi persyaratan untuk lulus dan menuju jenjang pendidikan selanjutnya. Tapi sebenarnya sepenting apakah kisi-kisi ujian ini?

kisi_kisi_ujian

Tampaknya pelajar sekarang bukan jauh lebih pintar, tapi malah jadi bodoh plus malas sekali. Sekolah hanya menjadi arena pencapaian nilai. Sebab nilai mnejadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan. Karena itu, menjelang Ujian Nasional selalu saja kita akan melihat sebagian besar dari mereka pontang-panting mencari kisi-kisi ujian.

Kisi-kisi ujian adalah sekilas informasi yang disusun oleh para guru berupa kumpulan soal atau semacam silabus yang nantinya akan menjadi panduan dalam mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Dalam kisi-kisi ujian sebenarnya nihil keobjektivitasan. Persyaratan dalam pembuatan materi tes atau ujian adalah validitas, reliabilitas, dan objektivitas. Jika ketiga persyaratan ini sudah terpenuhi, maka barulah bisa dikatakan materi ujian yang dibuat itu baik. Ibarat istilah matematika, kisi-kisi ujian adalah bilangan imajiner, yang keberadaannya hanya di awang-awang; hanya sebuah perbantuan. Sehingga kisi-kisi ujian hanyalah sebuah panduan, bukan keharusan yang harus dicari-cari, dikejar-kejar, dan dipaksakan harus ada keberadaannya.

Pemberian kisi-kisi ujian sebenarnya justru merusak mental pelajar karena bisa menyesatkan. Tak ada yang bisa menjamin keakuratannya. Dengan hanya memelajari materi yang ada di dalam kisi-kisi ujian, artinya pelajar tersebut hanya menguasai ilmu yang ada di dalam kisi-kisi ujian tersebut. Jadi apa gunanya mereka sekolah bertahun-tahun tapi hanya menguasai segelintir ilmu?

Dalam menghadapi Ujian Nasional, sebaiknya para guru menegaskan kepada siswa/siswinya untuk mempersiapkan kematangan ilmu yang mereka miliki dengan belajar secara rutin, bukan sistem kebut semalam. Kisi-kisi ujian bukanlah jawaban untuk keberhasilan, tapi bentuk kesesatan yang harus dikoreksi.

Foto dari idisuwardi.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s