Konser Chicago di Indonesia: Hanyut Dalam Nostalgia Masa Kecil

Konser Chicago di Indonesia punya arti penting bagi hidup gue. Selain sebagai tanda tercapainya salah satu impian masa kecil, konser Chicago di Indonesia yang diadakan di Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu (27/10) malam lalu berhasil bikin gue menangis terharu karena hanyut dalam nostalgia akan lagu-lagu mereka seperti If You Leave Me Now, You’re the Inspiration, dan Hard To Say I’m Sorry.

ImageKonser Chicago di Indonesia ini adalah kali kedua. Sebelumnya Robert Lamm, Lee Loghnane, James Pankow, Lou Pardini, Jason Scheff, Tris Imboden, dan Keith Howland pernah menggelar konser tunggal di Indonesia pada tahun 1993 silam. Saat itu, Chicago masih digawangi Bill Champlin sebagai gitaris.

Gue sendiri kenal dengan Chicago waktu duduk di bangku sekolah dasar. Nyaris setiap pagi sebelum berangkat sekolah gue ‘dipaksa’ ikut mendengarkan lagu-lagu Chicago, terutama Song For You. Tak heran, lagu ini berulang-ulang diputar karena lagu ini punya kenangan khusus bagi bapak dan ibu gue saat masih berpacaran dulu. :’)

Awalnya gue pikir penonton konser Chicago di Indonesia ini adalah Om-Om dan Tante-Tante usia kepala lima seperti halnya bapak gue. Tapi setelah masuk hall, ternyata banyak juga yang seumuran. Yah, meskipun kepala tiga, tetap usia Om-Om juga sih.

Konser Chicago di Indonesia dimulai sekitar pukul 8 malam. Tata panggung yang minimalis dengan set yang sederhana membuat konser ini tak tampak seperti konser sebuah band legendaris. Untuk keyboard, Robert Lamm hanya menggunakan Yamaha Motif sedangkan Lou Pardini membawa serta Hammond XK-3 miliknya.

Tapi saat lagu pertama dimainkan, terasa sekali aura legendaris band yang berdiri sejak 1967 ini. Membawakan Make Me Smile, Colour My World, To Be Free, dan Now More Than Ever secara medley, konser Chicago di Indonesia ini berhasil menyesapkan nuansa haru biru dalam dada gue.

Setelah sesi medley dan beberapa lagu gue-gak-hafal-judulnya dimainkan, Lou Pardini, vokalis sekaligus keyboardist Chicago menyapa para penonton.

“We love coming back here,” serunya. We love you too, Lou!

Tak lama kemudian, Chicago membawakan Call On Me dan lagu yang sukses membawa mereka meraih Grammy Award tahun 1977 untuk kategori Best Pop Performance by a Duo or Group, If You Leave Now. Saat lagu yang diciptakan eks anggota Chicago, Peter Cetera itu dimainkan, Plenary Hall mendadak jadi ruang karaoke raksasa.

Tak puas mengaduk-aduk perasaan penonton, Chicago langsung membawakan Hard Habit To Break, Saturday In the Park, You’re The Inspiration, dan Hard To Say I’m Sorry. Di dua lagu terakhir, emosi penonton kembali terguncang karena hanyut dalam nostalgia. Dan gue sempat-sempatnya menitikkan airmata.

Namun, jujur saja, pilihan repertoar yang disajikan oleh Chicago malam itu gak banyak yang gue tahu. Hits internasional seperti Baby What A Big Surprise, You Came To My Sense, dan Song For You pun tidak dibawakan. Tapi konser Chicago di Indonesia ini tetap luar biasa karena merasa bangga bisa melihat aksi enerjik para personel band asal Amerika Serikat. Penonton lain pun gue lihat sangat antusias. Buktinya, jelang 20 menit konser berakhir, penonton di bagian depan mendadak maju mendekati panggung untuk bernyanyi dan berjoget mengikuti iringan lagu sambil foto-foto.

Konser Chicago di Indonesia bertajuk Chicago Live in Concert 2012 ini ditutup dengan dua lagu tambahan, yaitu Free dan 25 Or 6 To 4.

Sebagai penonton gue berpendapat konser Chicago di Indonesia ini sukses. Enesha Entertainment berhasil membawa band legendaris itu untuk menghipnotis kaum remaja hingga kaum tua dengan lagu-lagu mereka yang abadi.

Jika boleh menilai, Chicago adalah band yang susah move-on. Ketika ditinggal bassis dan vokalis Peter Cetera pada tahun 1985, Chicago menggaet Jason Scheff. Chicago sengaja memilih pria kelahiran 16 April 1962 itu karena punya kemampuan impersonasi pada karakter vokal Cetera yang melegenda. Memang, Scheff cukup lebih baik saat membawakan lagu-lagu dengan beat cepat, tapi untuk urusan lagu-lagu balada yang manis, Peter Cetera tetap jagonya.

Tapi semua tergantung selera, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s