Seragam Kantor – Haruskah Mengenakannya?

Seragam kantor adalah pakaian standar yang dikenakan oleh karyawan sebuah perusahaan sewaktu berpartisipasi dalam aktivitas perusahaan tersebut. Penggunaan seragam kantor ini dapat dikatakan sebagai bentuk aktualisasi dan penyamarataan kedudukan dalam sebuah perusahaan. Contohnya seragam pegawai negeri sipil yang juga dikenakan oleh para pejabat negara. Tak hanya di kantor atau perusahaan, di restoran bahkan pedagang kaki lima terkadang juga mengenakan seragam kantor.

Photo courtesy of ehow.com

Dengan meningkatnya kebutuhan seragam kantor, mulai bermunculan usaha-usaha konveksi yang memroduksi seragam kantor. Hanya saja, jika ditelaah lebih lanjut, apakah penggunaan seragam kantor adalah sebuah kebaikan?

Dunia kerja sebagai ruang lingkup organisasi agaknya telah memaksakan penggunaan seragam kantor sebagai sebuah ideologi. Ada kemunduran nilai-nilai yang tanpa disadari telah memaksa kita untuk tunduk dan terpaksa mengikutinya sebagai bentuk kepatuhan sosial.

Seragam memang berfungsi sebagai identitas, sebagai simbol persamaan hak dan kewajiban, dan sebagai pembentuk kedisiplinan. Hal-hal itu hanya berlaku jika Anda masih duduk di bangku sekolah. Sekolah adalah institusi pendidikan yang sudah pasti harus menyadari dengan benar pentingnya penggunaan seragam. Selama 12 tahun, anak-anak usia sekolah harus memelajari implikasi filosofis dari pentingnya bersekolah dan pentingnya menggunakan seragam sehingga sekolah tidak mengalami dekadensi makna.

Tetapi di dunia kerja, seragam kantor sejatinya tidak memiliki makna dan fungsi yang sama. Seragam kantor justru membuat manusia terpecah menjadi bagian-bagian sehingga kentara sekali ada perbedaan struktural.

Antara office boy dan karyawan magang saja ada perbedaan seragam kantor yang mencolok. Karyawan baru pun biasanya juga dipaksa untuk mengenakan seragam kantor berupa setelan kemeja putih dan celana hitam. Bila dikomparasikan dengan seragam kantor para manajer atau direktur, adilkah itu? Jika manajer berkemeja dan berdasi setiap hari, kenapa office boy tidak boleh mengenakan seragam kantor yang sama? Jika karyawati atau sekretaris boleh tampil trendi dengan busana ala selebriti atau sesuatu yang mengikuti trend fashion terkini, mengapa karyawati baru diminta menggunakan setelah putih-hitam selama masa percobaan?

Saat kita semua berkoar-koar menginginkan persamaan hak dan kewajiban, peraturan penggunaan seragam kantor malah akhirnya menjadi bentuk pengekangan. Padahal tanpa mengenakan seragam kantor pun, proses operasional dapat berjalan dengan lancar. Toh yang bekerja adalah manusianya, bukan seragamnya.

Mengenakan seragam kantor sejatinya membuat kita tunduk pada posisi struktural yang implikasinya menuju kesenjangan. Perbedaan posisi seharusnya bukanlah pembeda tapi sebagai realita dan kekayaan bahwa ketidakseragaman tidak akan menghapus persamaan hak dan kewajiban sebagai manusia.

Mengutip ahli manajemen berkebangsaan Amerika, Rosabeth Moss Kanter, bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan, sehingga pola pikir manusia abad ke-21 akan dipenuhi dengan pemikiran yang tidak jauh dari konsep better, faster, dan cheaper. Dengan demikian, manusia akan terpacu untuk memiliki jargon 4C, yaitu concept, competence, connection, dan confidence. Dalam pernyataan tersebut jelas perlu diterapkannya konsep simplikasi yang tujuannya adalah produktivitas.

Jadi inti dari tulisan tentang seragam kantor ini adalah “it’s not about uniform, but it’s all about good perform”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s