Konser Casiopea di Indonesia: Tercapainya Impian Masa Kecil

Konser Casiopea di Indonesia baru saja berakhir Minggu malam (30/09) lalu. Akhirnya salah satu impian masa kecil gue tercapai.

Bisa menyaksikan langsung Akira Jimbo, Issei Noro, Yoshihiro Naruse, dan Otaka Kiyomi beraksi di atas panggung, it’s such a great moment in my life. Even over 36 years, Casiopea still has amazing music that being important staple in my life.

Image

Photo courtesy of http://www.casiopea.co.jp

Konser Casiopea di Indonesia yang bertajuk “Casiopea 3rd Live” ini diadakan di Skenoo Hall, Gandaria City Mall. Cukup menarik mengetahui ada hall cukup megah di lantai 3 sebuah pusat perbelanjaan dan bisa diadakan untuk pertunjukan konser musik.

Gue sempat berpikir, konser Casiopea di Indonesia ini hanya akan disaksikan oleh para orang tua atau pria-wanita paruh baya. Maklum, musik yang dianut Casiopea termasuk segmented music alias tak banyak yang menggemarinya, unless people who really love good music. Ternyata di di lokasi acara, banyak juga anak-anak muda (17-25 tahun) yang bergerombol di sekitar venue untuk menyaksikan Casiopea.

Gue sendiri mendengarkan Casiopea saat duduk di bangku SMA. Awalnya hanya terkagum-kagum dengan komposisi mengagumkan di lagu “Galactic Funk”. Karena jatuh cinta pada pendengaran pertama itulah lalu akhirnya gue mulai berburu kaset band yang berdiri sejak 1976 itu saat merantau kuliah ke Bandung. Bahkan sempat-sempatnya dulu gue menyisihkan uang saku untuk belajar piano jazz dengan harapan bisa sejago mereka. Jadi “Jagoan Neon” sih iya.

Selama kurang lebih 12 tahun gue memendam kekaguman kepada Casiopea, gue bersorak kegirangan saat tahu ada konser Casiopea di Indonesia. I won’t die fully satisfied if I never see Casiopea in concert. Their music always makes me feel good. Gue bersumpah bakal melakukan apapun demi bisa nonton konser Casiopea di Indonesia. And it just happened! Dua hari sebelum konser berlangsung, gue bisa dapet tiketnya dari menang kuis di Twitter. Thank God!😛

Hari itu, dimana orang-orang sibuk membicarakan pemberontakan PKI, gue bersama ratusan penonton konser Casiopea di Indonesia mengantri dari jam 5 sore di depan pintu Skenoo Hall Gandaria City. Setelah kurang lebih 2 jam menunggu, pintu terbuka dan gue pun terpana. Stage set konser Casiopea di Indonesia terlihat sederhana dan tidak neko-neko. Alat-alat musik para personel Casiopea pun sudah terpasang dengan rapi. Gue setengah menjerit melihat Roland Jupiter-50 yang menjadi ‘pegangan’ keyboardist baru Casiopea, Otaka Koyumi. Pasalnya, itu adalah salah satu keyboard terbaru keluaran Roland. Sebagai (mantan) keyboardist, pastinya gue terkagum-kagum melihatnya.

Image

Terduduk cukup lama sampai akhir MC bersama wartawan musik Bens Leo muncul di panggung. Bens Leo sedikit memberi info, konser Casiopea di Indonesia ini menarik sebab mereka terakhir datang ke Indonesia tahun 1986 dan 1991 pada gelaran JakJazz. Dengan jeda waktu yang cukup lama, konser Casiopea di Indonesia kali ketiga ini tentunya mengobati kerinduan para pecinta jazz.

Bens Leo juga menambahkan, kehadiran Casiopea sangat mempengaruhi gaya bermusik musisi Indonesia di era 80-an. Contohnya Karimata, Emerald, bahkan Kahitna yang dengan gaya fussion jazz-nya berhasil menjuarai Yamaha Contest di Jepang.

Penonton kian tak sabar. Bens Leo dan MC pun dipaksa turun agar konser Casiopea di Indonesia bisa segera dimulai.

Sejenak gue terdiam dan terharu melihat wajah Issei Noro saat ia menaiki panggung. Meski rambut dan jenggotnya telah beruban, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Sebuah keriaan akan bermusik yang tidak akan pernah padam. He’s a happy man, a happy father, a happy grandfather, and indeed a happy musician.

Gue nyaris berteriak “PAPAAAAAAA!” kepada Issei Noro yang mulai memegang gitar di atas panggung.

Skenoo Hall bergemuruh. Lagu pertama dimulai.

“Dazzling” adalah tembang pertama yang dibawakan Casiopea malam itu. Lagu ini dari album kesembilan Casiopea, Photographs, yang dirilis tahun 1983. Setahun sebelum saya lahir.

Setelah hampir lima menit membawakan “Dazzling”, Casiopea kemudian membawakan “Eyes of the Mind”. Lagu ini diambil dari album kelima Casiopea bertitel sama yang dirilis tahun 1981. Proses pengerjaan album ini sendiri dilakukan di Los Angeles, dibantu oleh drummer jazz ternama Harvey William Mason dan perkusionis legendaris Paulinho da Costa.

Berturut-turut setelah itu, Casiopea membawakan “Aoi Honoh” (1990) dan “Set Sail” (1994). Di antara kedua lagu itu, Issei Noro sempat memberikan kata sambutan dalam bahasa Indonesia terpatah-patah.

“Selamat malam. Kami Casiopea datang dari Jepang untuk Anda. Kami cukup lama tak main di sini, kami kembali dengan anggota baru.”

Saat penonton bertepuk tangan meriah. Saya meneriaki Noro-san,

“NIHONGO DE HANASHITE KUDASAI!” (terj. “Tolong bicara dalam bahasa Jepang!”)

Setelah itu Casiopea kembali membawakan komposisi terbaiknya seperti “Golden Waves” (1997), “Domino Line” (1982), dan “Space Road” (1979).

Setelah membawakan “Space Road”, Issei Noro kembali chit-cat dengan penonton. Sambil guyon, ia mengaku sudah kelelahan meskipun baru membawakan tujuh lagu.

I’m 55 years old,” tambah satu-satunya personel Casiopea yang tidak pernah tergantikan itu.

Image

Tanpa banyak bicara, Casiopea melanjutkan permainannya dengan membawakan sebuah lagu baru yang diberi judul “Arrow of Time”. Lagu yang berarti “Panah Waktu” ini mungkin semacam curhat dari Issei Noro bahwa ia sudah tua dan lelah dengan kehidupan musik yang kian keras. Tapi sama sekali tak terlihat kelelahan itu tergurat di wajahnya. Selama pertunjukan berlangsung, Noro-san tak henti-hentinya tersenyum sambil menunjukkan permainan melodi gitarnya yang cantik dan harmonis.

Setelah “Arrow of Time”, di panggung hanya ada Otaka Kiyomi. Keyboardist yang menggantikan posisi Minoru Mukaiya ini beraksi di atas tuts-tuts keyboard dan organ-nya. Sebelum didapuk sebagai keyboardist Casiopea, Otaka-san adalah pemain solo organ yang sudah banyak bekerja sama dengan musisi dunia, seperti Mike Mangini, Thomas Lang, Gary Novak, dll.

Selama beraksi di panggung, Otaka Kiyomi banyak berkreasi dengan sounds organ dan tone-wheel. Tak salah jika ia di-endorse Roland untuk memperkenalkan Roland V-Combo.

Setelah solo keyboard tuntas, Otaka Kiyomi lalu menemani Issei Noro membawakan tembang melodius “Twilight Solitude” (1984). Lagu manis ini berhasil membuat seisi Skenoo Hall Gandaria City bersenandung. Kalo di Twitter, mungkin hashtag #humming sudah jadi Trending Topic.

Akira Jimbo dan Yoshihiro Naruse kembali naik panggung. Casiopea tampil membawakan lagu “Hoshi-zora” (1985).

Pertunjukan kian seru ketika Akira Jimbo bersolo drum. He is such a refined drummer! Tampil berkemeja ala zebra, Akira Jimbo memainkan suatu komposisi lagu hanya dengan drum dan trigger system-nya. Drummer yang sudah lama di-endorse Yamaha Music ini jago sekali memainkan pattern clave dengan kaki kirinya sedangkan kedua tangan dan kaki kanannya memainkan pattern yang berbeda dalam speed yang sangat cepat. Meskipun cepat, tapi pukulannya tetap halus. Itulah keistimewaan Akira Jimbo sebagai seorang drummer terbaik di dunia.

Image

Setelah tampil solo, tanpa lelah Akira Jimbo menemani rekan-rekannya membawakan “Mid-Manhattan” (1982) dan “Akappachi-ism” (1991). Ada cerita menarik di balik lagu “Mid-Manhattan”. Lagu ini masuk dalam album kedelappan Casiopea, 4×4. Proses pembuatan albumnya sendiri dibantu oleh Lee Ritenour, Harvey Mason, Nathan East, dan Don Grusin yang notabene adalah personel
Fourplay.

Nah, kini giliran Yoshihiro Naruse pamer kemampuan. Setelah “Akappachi-ism”, Naruse-san turun dari panggung dan memainkan solo bass sambil mengelilingi bangku penonton paling belakang. Man, he’s gorgeous! Even without Tetsuo Sakurai, Casiopea is still groove and rock, with amazing skill and sound.

Setelah Yoshihiro Naruse kembali naik ke panggung, “Cry With Terra” (2002) pun mengalun.

Tak ingin kalah, Issei Noro ikut unjuk gigi. Awalnya ia membawakan lagu “Bengawan Solo” ciptaan almarhum Gesang dengan gitarnya, kemudian memainkan beberapa repertoar secara acak dengan petikan gitar yang cepat dan padat.

Noro-san, anata wa sugge! (terj. “Mr. Noro, Anda luar biasa!”)

Lagu favorit penonton pun akhirnya dimainkan. Berturut-turut Casiopea membawakan “Galactic Funk” (1981), “Fight Man” (1991), “Tokimeki“ (1990), dan “Asayake” (1979).

Di lagu terakhir, semua penonton berdiri untuk menikmati beat lagu favorit sejuta umat itu.

Casiopea senang. Penonton senang. Penjual tiket senang.

Selain penampilan Casiopea yang sangat apik malam itu, permainan cahaya di atas panggung juga sangat cantik. Sebelum konser dimulai, gue sempat melihat ke arah tempat lighting control. Ternyata Casiopea membawa teknisi tata lampu sendiri, dan dia adalah seorang perempuan Jepang cantik bernama Yuko Sano.

Image

Setelah mencari tahu, ternyata koordinator tata lampu yang jelita ini bekerja di Entec Sound and Light, sebuah perusahaan jasa tata lampu dan suara bermarkas di London. Wajar saja jika tata lampu pada konser Casiopea di Indonesia sangat cantik. Seperti kamu, Sano-san. *pasang emoticon tutup muka*

4 thoughts on “Konser Casiopea di Indonesia: Tercapainya Impian Masa Kecil

    1. Terima kasih telah berkunjung, Kang. Saya malah baru tahu kalau Casiopea tampil di Economic Jazz. Kalau tahu, saya pasti bakal nonton juga. 😑

      1. Ya Ampun, Mas. Aku seperti berkaca baca tulisan ini. Perasaan yg sama ketika aku ntn casiopea, sekaligus wwncr mereka. Mau pengsan rasanya pas menjabat tangan Issei-san. Musik mereka ttp bertumbuh dgn baik, mengikuti zaman terkini. Sound-nya lbh kaya & modern. Kehadiran kibordis baru, Kiyomi-san, memang meremajakan band ini. Tapi, casiopea dgn sound Yamaha jadul, yg keyboardnya ngandelin electric piano, emg selalu ngangenin & tak tergantikan. Mimpi selanjutnya: pgn ntn showcase mereka di Jepang. Amin Ya Rabb.. 🙏

      2. Wuih sebuah kehormatan blog yang remeh-temeh ini dikunjungi editor majalah ternama. Aku iri lho Mbak Chika bisa meng-interview Casiopea. Pengen foto sama Papa Issei Noro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s