Mengagumi Tanpa Perlu Menghakimi

Cinta

Manusia dikaruniai kemampuan untuk mengagumi keindahan yang berada di luar dimensi dirinya. Hal tersebut mendorong manusia untuk mengekpresikan gagasan yang ada dalam pikiran kemudian mengolahnya untuk mewujudkan sesuatu yang belum ada menjadi ada.

Namun kekaguman sering menjadi perilaku yang salah kaprah. Sebuah komunikasi yang berjalan searah. Kekaguman diejawantahkan dalam hal-hal yang bersifat platonik dan artifisial. Bila segala keindahan yang terperangkap di mata nampak sangat indah, itu karena dalam pandangan mata terdapat godaan, dan ada intervensi konsep kedirian yang secara psikologi mempengaruhi hati manusia.

Manusia bisa kehilangan martabat karena kekaguman yang tak terkendali. Misal, kekaguman kepada harta-benda, kekuasaan, prestasi, kedudukan, dan keindahan fisik.

Kalau begitu, kenapa kekaguman hanya dipersembahkan untuk keindahan? Mengapa manusia mengabaikan ketidakindahan? Padahal keindahan dan ketidakindahan merupakan pondasi kedirian. Sebuah anugerah yang menjadi identitas setiap ciptaan Tuhan.

Kekaguman semu terhadap keindahan sesungguhnya bertendensi demi sebuah urgensi. Melupakan ketidakindahan berarti mengabaikan hal-hal yang dianggap bertolak belakang. Tak mungkin mencintai seseorang dengan utuh dan menyeluruh bila hanya mengagumi hal-hal indah saja. Efeknya, kekaguman menjadi sebuah hal yang masokis daripada hal yang humanis.

Kenapa orang tidak pernah mengagumi seorang pelacur? Apa karena ia buruk? Konsep apa yang membuat kita berpikir bahwa kita jauh lebih baik darinya? Padahal bisa jadi ia lebih mulia dari kita yang menganggapnya buruk. Manusia hanya debu, sehingga tak pantas menilai seseorang sesuka hati.

Kekaguman memang harus dipupuk. Namun harus proporsional antara hal baik dan hal buruk. Hal baik dan hal buruk adalah wujud keunitasan anugerah Tuhan. Bila kekaguman menjadi perilaku yang seimbang, maka dunia tidak perlu membubuhkan stigma. Dan kehidupan semata-mata menjadi sebuah gerbang menuju ridha dan perspektif Sang Kuasa.

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al An’am 6 – 32)

(ditulis di Bekasi 06 Mei 2010)
© bang-kit

2 thoughts on “Mengagumi Tanpa Perlu Menghakimi

  1. Sebenarnya tulisan ini hanya mengajak kita semua, termasuk penulis, untuk bersikap rendah hati. Manusia hanya debu. Bahkan matahari yang kita anggap sebagai benda angkasa raksasa, ternyata tak lebih hanya sebesar noktah di hadapan bintang raksasa seperti Antares dan Aldebaran.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s