Kata Mereka, Melayu Mendayu-dayu

Melayu

Dalam Kongres Melayu Internasional yang pernah diadakan beberapa tahun lalu, bapak saya yang diundang menghadiri kongres tersebut sebagai wakil dari seniman, mengaku mengalami ‘guncangan’ yang cukup hebat sebab situasi yang terjadi bukan merefleksikan sebuah diskusi yang sehat namun peserta kongres malah saling tumpang tindih memperdebatkan definisi konsep Melayu.

Beliau yang sudah ‘panas’ mulai angkat bicara dan balik bertanya, sebenarnya siapa sih Melayu itu? Apakah kita semua masih Melayu? Atau Melayu hanya nama belaka, bukan sebuah jati diri? Ya– Pernyataan yang cukup nyeleneh itu berhasil membuat peserta kongres terdiam. Dan kini, saatnya saya yang meneruskan jejak pemikiran. Apakah Melayu itu?

Menurut kalian, seperti apa orang Melayu dalam konsep kekinian? Apakah mereka yang bertindik dan bertato adalah orang-orang Melayu? Atau mereka yang sibuk mondar-mandir dan komat-kamit bersama telepon genggam adalah Melayu? Apakah mereka yang hobi berbaju ketat serta mengenakan rok mini bisa dikategorikan sebagai orang Melayu pula? Ah untuk poin terakhir, sulit bagi saya untuk memutuskan. Ada hal besar yang terlebih dahulu mesti diimajinasikan.

Melayu dalam pengertian mutakhir merujuk kepada penutur bahasa Melayu dan mereka yang mengamalkan adat Melayu. Saat ini sudah banyak terjadi akulturasi antara kebudayaan Melayu dengan kebudayaan asing yang datang dari luar Kepulauan Melayu. Bangsa Melayu merupakan bangsa termuda di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan kuno di pulau Sumatera. Sehingga secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di Selat Malaka yang menggunakan sejenis bahasa yang sama yang dinamakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara. Secara persfektif historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai Proto Melayu (Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu. (Wikipedia-red)

Diferensiasi dari Melayu bukan berarti Melayu memiliki kewenangan untuk mengkotak-kotakkan golongan. Hanya satu Melayu. Tak perlu embel-embel. Ini bukan lagi jaman dimana kolonialisme masih mengkotak-kotakkan bangsa Melayu, seperti yang pernah terjadi pada 17 Maret tahun 1824, sebuah perjanjian antara Belanda dengan Inggris –dikenal dengan Traktat London– yang secara sepihak telah membagi wilayah Melayu menjadi dua, yaitu sebelah utara menjadi daerah kekuasaan Inggris, dan selatan daerah kekuasaan Belanda. Pembagian administratif kolonialis itu pada perjalanannya melahirkan negara Indonesia, Malaysia dan Singapura. Bahasa Melayu di tiga negara itu pun berkembang di bawah pengaruh bahasa masing-masing negara kolonial itu.

Pemaknaan konsep Melayu dan ke-melayu-an tampak kompleks bila seseorang melihat identitas ke-melayu-an berdasarkan pengalaman dan afiliasi pribadinya. Bentuk terkecil dari afiliasi seseorang adalah keluarga, kemudian komunitas, masyarakat, dan negara. Di dalam masyarakat dan negara terdapat juga afiliasi kelas sosial, agama, pendidikan, ideologi, politik dan lain-lain yang berpengaruh besar pada upaya pemaknaannya tentang Melayu.

Melayu identik dengan Islam. Namun jika definisi Melayu dibatasi pada identitas etnik dan agama, akan menciptakan posisi yang tumpang tindih antara agama sebagai sistem kepercayaan yang bersifat individual dan etnisitas sebagai struktur sosial

Media-media informasi mulai mengaburkan batas-batas fisik dan budaya; sebuah deteritorialisasi, sehingga menciptakan dunia baru dengan batas-batas wilayah dan nilai yang bersifat relatif. Proses deteritorialisasi ini menjadi sebuah proses penting karena menjadi titik balik peradaban kontemporer yang memiliki implikasi yang luas dalam berbagai proses sosial dan budaya. Implikasi positif maupun negatif dapat terjadi dalam proses sosial dan budaya itu, yang diawali dengan perubahan cara berpikir dan cara memandang dunia. Upaya-upaya menduniakan nilai-nilai luhur Melayu menjadi sangat penting sebagai penyeimbang ide dan gagasan dari luar dunia Melayu yang bersifat destruktif.

Saat Melayu Dihujat
Belakangan banyak orang yang mengaku muak dengan Melayu. Mereka menghujat Melayu. Mengatai Melayu sebagai bangsa dan kebudayaan sampah. Yang sampah mereka atau Melayu sih?? Hal ini dipertegas pula dengan fenomena laris manisnya kreasi musik Melayu sebagai hal yang dikomoditaskan. Kehadiran Kangen Band, ST-12, Armada, dll sebagai pionir dari kaum muda yang prihatin terhadap eksistensi bangsa Melayu, ternyata mendapatkan respon yang tidak baik. Acapkali terdengar hujatan dari pihak musisi maupun masyarakat awam tentang mereka. Dan mereka yang bodoh nan sok tahu mengaku muak dan jijik dengan musik Melayu. Lalu kebudayaan apa yang dianggap bagus dan adiluhung? Apakah kebudayaan barat dengan segala sintesis dan antitesis mereka yang serba liberal bahkan condong artifisial? Malu mengaku Melayu??

Musik maupun kebudayaan Melayu disepelekan hanya karena kehadiran anak-anak muda dengan musikalitas minimal yang mencoba menjadi pendobrak blantika musik Indonesia. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Itu jelas sangat tidak adil. Mengingat apa yang mereka lakukan adalah sebuah usaha untuk membuka mata terhadap keadiluhungan kebudayaan kita. Ok, kita ini tidak punya kebudayaan, menurut Bung Pram. Tapi setidaknya, ada yang berani mencoba mengeksplor sebuah tradisi. Daripada berperan sebagai plagiator atau pun budak dari tren globalisasi.

Melayu bukan hanya berarti identitas diri namun dapat pula berarti pandangan hidup. Melayu dapat dikategorikan sebagai sebuah konsep atau cara pandang yang bersifat mendasar tentang diri dan dunia yang menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang bermakna. Cara pandang tersebut berfungsi sebagai sarana untuk merespon dan menerangkan permasalahan eksistensial kehidupan seperti, Tuhan, manusia, dan dunia (alam semesta). Melayu adalah identitas kultural namun bukan berarti Melayu adalah sebuah entitas kebudayaan yang tunggal dan homogen. Melayu ibarat rumah, yang di dalamnya dihuni oleh berbagai orang dengan cara pandang yang berbeda-beda, baik itu yang bersumber dari perbedaan sistem religi maupun keyakinan. Sistem religi dan keyakinan tersebut memungkinkan munculnya perbedaan-perbedaan dalam hal adat-istiadat dan ritual, konsepsi kosmologi dan waktu, sistem mata pencaharian, dan lain-lain. Melayu sebagai pandangan hidup merupakan sebuah konstruksi fundamental yang mengacu kepada pandangan tentang Tuhan (pencipta), pandangan tentang kosmologi (dunia), pandangan tentang waktu, pandangan tentang nasib dan usaha, pandangan tentang manusia, pandangan tentang hal gaib (metafisis), dan pandangan tentang leluhur.

Upaya para tokoh-tokoh Melayu untuk meredefinisi konsep Melayu, menurut saya– hanyalah sebuah niatan yang sia-sia. Karena Melayu bagi saya adalah sebuah konsep yang struktural bagi masyarakat kita. Melalui paradigma yang holistik, Melayu dapat menjadi sebuah panduan dalam kehidupan sebab Melayu adalah sebuah jati diri yang dapat mengakomodasi berbagai aspek: sejarah, budaya, agama, ras, dan bahasa dalam satu bingkai pengertian yang utuh sehingga manusia Indonesia identitas sebenarnya adalah orang Melayu.

Upaya redefinisi ini dilakukan sebab dianggap penting mengingat minimnya proses tumbuh-kembang kesadaran dari manusia Melayu sendiri. Hal ini bisa diterima mengingat Melayu bukan saja yang ada di Indonesia namun juga yang terdapat di belahan dunia lain. Dan manusia-manusia yang tersebar ini masih sangat banyak yang mendefinisikan Melayu seenak hati. Lalu bagaimana cara mempersatukan konsep Melayu ini? Bila menyadari bahwa sejatinya kita adalah saudara serumpun, meskipun memiliki beberapa perbedaan, seperti ras, agama, bahasa, dan kewarganegaraan. Sehingga dengan penyatuan konsep ini dapat mengoptimalkan potensi bangsa Melayu, baik secara kualitas maupun kuantitas, dalam menghadapi persaingan global, sehingga menjadi bangsa yang mandiri dan kuat.

Akhir kata, benarkah Melayu suka mendayu-dayu dan gemar mendendangkan lagu cinta yang senyap-sayu? Tanyakan saja pada grup musik Efek Rumah Kaca. Mungkin mereka lebih tahu jawabnya. (ksh)

 

(ditulis 23 November 2008. Dari berbagai sumber)
© bang-kit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s