Filosofi Pertemuan: Sebuah Melankoli Berlebihan

IV
“Pada tiap tikungan kali
kau akan dapatkan aku
menyanyi dengan merih yang merah.
Aku mencarimu, Euridice
sampai kau hilang lagi.”
(Goenawan Mohamad, Orfeus, Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor Publishing, Jakarta)

 

***

 

Orpheus5125

Salah seorang penyair unggul, Goenawan Mohamad memetaforakan kesempatan dan pencarian dalam lelahnya perjalanan berliku. Seorang Orpheus(*), mendambakan pertemuan kembali dengan Eurydice, kekasihnya yang tiada. Ia memang membutuhkan pertemuan kembali namun tak perlu mengubur rapat setiap kenangan yang telah tercipta. Orpheus hanya ingin memugar kenangannya menjadi sebuah kehidupan yang baru. Meski ia harus menyambangi dunia arwah, mengalahkan berbagai rintangan untuk ‘sekedar’ menemukan kembali jiwa Eurydice.

Terkadang kisah Orpheus & Eurydice membangun melankoli berlebihan dalam diri banyak orang, termasuk saya. Bukan karena keradikalan Orpheus mengejar jiwa mati Eurydice hingga ke Hades, negeri kematian. Bukan karena ia tak menyadari betapa keras dan menakutkannya hati Pluto, sang penguasa Hades. Namun karena pergulatan batin mengenai makna kebutuhan akan cinta, itulah yang menguatkan langkahnya.

Sebelumnya Orpheus tak pernah berharap akan bertemu Eurydice, sang peri hutan. Tapi pertemuan melahirkan kehidupan baru bagi mereka berdua. Sehingga tak salah bila Tuhan menciptakan makhluk bernama manusia dalam integritas yang tinggi. Dalam penuh kesadaran-Nya, Tuhan menurunkan manusia dengan segala kesempurnaan. Begitu pula saat merencanakan pertemuan. Seperti halnya Orpheus, ia seorang pria sempurna namun merasa tak sempurna tanpa cinta. Baginya, pertemuan dengan Eurydice adalah pelengkap paling paripurna. Dan Orpheus siap melakukan apapun untuk menemui Eurydice kembali meski menafikkan logika bahwa kekasihnya telah mati.

Mempertahankan Pertemuan

Bisa jadi pertemuan merupakan sebuah kesempatan langka dalam kehidupan. Karena Pertemuan, Maka Aku Ada. Berlebihan? Tidak juga. Bagi saya, sebuah keoptimalan tercapai dalam kesadaran sebuah pertemuan. Apalagi bila pertemuan yang menjadi salah satu skenario misterius Tuhan.

Mendeskripsikan sebuah pertemuan bukanlah hal yang mudah. Terkadang perkenalan diwujudkan sebagai keindahan yang sulit untuk digambarkan. Bahkan ada yang mengibaratkan pertemuan sebagai sebuah iman: mudah diyakini meski tak gampang diaplikasikan. Lebih jauh lagi, kembali meminjam metafora ala Goenawan Mohamad (Dalam Catatan Pinggir, Gus Dur, Majalah Tempo, Edisi Senin, 11 Januari 2010), pertemuan adalah sebuah benteng: sebuah konstruksi di sebuah wilayah. Karena kadang pertemuan yang kemudian biasanya dilanjutkan dengan perkenalan, mengasumsikan bentuk-bentuk pertahanan (defensif) yang kokoh dan tertutup, untuk menangkis apa saja yang perlu diwaspadai.

Tuhan melengkapi jalan pertemuan untuk melengkapi catatan-catatan kehidupan kita. Pertemuan ibarat jilidan ring yang rapi dalam sebuah kalender. Membundel lembar demi lembar informasi hari, tanggal, minggu, yang kesemuanya belum tentu akan kita jalani.

Bila ada yang bertanya, “mengapa sebuah pertemuan begitu berharga?” Pertemuan melahirkan kehidupan. Dengan kuasa-Nya, pertemuan kadang melahirkan cinta bahkan benci. Pertemuan mencakupi seluruh makhluk. Dengan pertemuan, banyak kesempatan yang datang menghampiri. Bahkan demi sebuah pertemuan, segala derita siap ditanggung dan diabaikan hanya dengan harapan agar bisa mengadakan pertemuan.

Namun tak mudah mempertahankan pertemuan. Mestinya kita harus terus melakukan pergulatan untuk dapat memaknai sebuah pertemuan hingga kemudian harus berakhir sebagai perpisahan. Pertemuan dengan seseorang tampak sebagai hal yang begitu sederhana namun disuguhkan begitu sempurna. Sebuah konklusi memang telah tercapai: begitu menakjubkannya manusia pun pertemuan.

Pertemuan menghasilkan harapan. Sebab selalu ada harap di balik sebuah pertemuan untuk melakukan pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan, selalu ada kehangatan meskipun tak semua orang bisa merasakannya.

Sepertinya masih banyak definisi pertemuan yang harus ditelaah makna harfiahnya. Namun lebih baik membiarkan definisi itu hanyut mengikuti arus. Terlebih sifat pertemuan itu tak abadi. Ibarat rerimbunan daun yang jatuh ke tanah. Mati.

Memang dunia kian suram. Namun kita membutuhkan pertemuan apa adanya. Pertemuan yang terjadi tanpa pernah kita sadari. Pertemuan yang menghasilkan konklusi. Sebab di dunia setelah kematian, pertemuan masih akan kita temui. (ksh)

 

“Pertemuan yang terekam dalam aksara,

dalam cemas, dalam harap, dalam buliran airmata

hingga tunduklah ia pada satu nama…”

 

(*) Orpheus and Eurydice, sebuah opera terkenal karya Christoph Willibald Gluck (2 Juli 1714 – 15 November 1787). Diadatasi dari cerita Yunani Kuno, Orpheus.

(ditulis pada 25 Januari 2010)

© bang-kit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s